Pernah Naik Anak Gunung Krakatau, Ngeri Sih Emang..

Di tahun 2017 Saya pernah mengikuti agenda Pariwisata Lampung Krakatau Festival 2017, tepatnya pada tanggal 25-28 Agustus 2017.

Perjalanan Saya dimulai dari Semarang. Saya naik kereta api ekonomi selama 7 jam lebih dan sampai di Jakarta agak malaman. Sang panitia mengumumkan lewat whatsapp namanya Mas Robi untuk bertemu di dekat salah satu hotel di Jakarta. Saya pun bergegas ke sana untuk ikut LKF 2017 bersama beberapa media Indonesia, kalau nggak salah dari Sindo, CNN, Antara TV dan berpuluh-puluh blogger dari Ibukota lainnya (tapi enggak se-bus karena mereka naik pesawat sendiri).

Dari pertemuan itu, langsung kami diajak untuk menyeberangi lautan menuju Pulau Sumatera. Hingga sampai di Bakauheni pagi banget dan dilanjutkanlah perjalanan itu menuju dermaga Boom Kalianda, Lampung Selatan. Inilah pintu gerbang menuju Gunung Anak Krakatau.

Eits, tapi karena Saya mengikuti tur Krakatau bersama awak media dan blogger, jadi mplipir seharian di salah satu pulau dekat Gunung Anak Krakatau untuk istirahat. Namanya, Pulau Sebesi.

gunung anak krakatau
Ini dia Pulau Sebesi yang Saya Ceritakan. Foto oleh WIke Sulistiarmi

Kalau Saya lihat, pulau ini memang khusus untuk wisata banget. Terdapat homestay dan beberapa permainan seperti kano dan beberapa permainan khusus wisatawan. Nanti Saya ulas deh Pulau Sebesi kayak apa.*

Setelah semalaman di Pulau Sebesi, kami bangun pagi untuk shalat Subuh. Lalu perjalanan dilanjutkan dengan naik kapal menuju Anak Krakatau. Perjalanannya kira-kira dua jam an.

Trek Pendakian Gunung Anak Krakatau

gunung anak krakatau
Jalur pendakian Gunung Anak Krakatau. Foto oleh Wike Sulistiarmi

Setelah sampai di Pulau Gunung Anak Krakatau, Saya langsung disambut dengan pasir hitam. Pasirnya agak nyebelin, karena mudah masuk ke sepatu.

Sebelum mulai mendaki, karena Saya sendiri tanpa kenalan akhirnya Saya mengajak beberapa orang untuk ngobrol, termasuk dua blogger kondang asal Medan dan Jakarta, mbak Moly dan Mbak Tere.

Dengan tanpa persiapan fisik, Sayapun naik ke puncaknya. Medannya unik, pertama Kamu harus melewati trek tanah selayaknya trek gunung biasa dengan beberapa pepohonan yang masih tumbuh subur.

Tapi trek akan berubah setelah 20 menit berjalan, hampir semua jalur dipenuhi pasir hitam beserta beberapa batu, layaknya pendakian Semeru di area puncak. Bedanya, jalur Gunung Anak Krakatau lebih landai. Tapi tetep aja sih capek, wong namanya aja naik gunung.

Hufft… setelah kurang lebih sejaman, akhirnya Saya sampai di Puncak Gunung Anak Krakatau. Di puncak, Saya disambut oleh Polisi Hutan bernama Pak Suhairul. Wah, doi humble banget. Dan banyak bercerita dengan Saya tentang Gunung ini.

Gunung ANAK krakatau
Polisi Hutan Gunung Anak Krakatau.

Yang bikin kaget adalah, ternyata kawasan Gunung Anak Krakatau itu nggak boleh sembarangan didaki seperti gunung lain.

“Ini kawasan yang dilindungi, tidak semua orang bisa naik ke sini. Selain itu, di sini juga sering gempa dan termasuk dalam kawasan yang cukup berbahaya,” cerita Pak Suhairul, salah satu polisi hutan yang Saya temui di atas Puncak Anak Gunung Krakatau.

Penampilan kawah yang ngeri dan berasap dengan lava yang mengering jadi pemandangan utama di puncak

GUNUNG anak krakatau

Uniknya lagi, ketika sampai di Puncak, Saya bisa melihat dengan jelas bagaimana lava Krakatau itu keluar dari kawahnya. (Sorry ya foto kawah ilang, soalnya dulu lupa back up data).

Kawahnya bentuknya tidak cekung, sehingga ketika ia memuntahkan lava, langsung deh lavanya itu keluar dari mulutnya menuju ke lautan tanpa halangan. Karena bercampur dengan tanah dan pasir, lavanya memiliki warna hitam pekat seperti arang tapi di dalamnya terlihat bara yang mengangga.

Ya Allah, nggak bisa ngomong lagi, ini adalah pengalaman paling nggak bisa Saya lupain seumur hidup. Melihat lava dari dekat.

Dari Gunung Anak Krakatau Saya bisa melihat Gunung Krakatau dari dekat, karena jaraknya yang tidak seberapa. Konon di sana, hawa panasnya lebih dahsyat daripada anaknya.

Karena sudah lelah dan kepanasan, akhirnya Saya memutuskan untuk turun gunung. Tapi lewat jalur yang berbeda dari saat naik. Saya lewat jalur dekat lava menuruni gunung.

Perjalanannya sangat unik, berbeda dari pas naik, karena Saya beberapa kali menemukan aneka jenis bunga-bunga an cantik yang menghiasi jalan pulang.

gunung anak krakatau
Perjalanan pulang. Foto oleh WIke Sulistiarmi/April Pagi

Tak butuh waktu lama, setengah jam saja Saya sudah sampai di pantai dengan pasir hitamnya. Menunggu kapal untuk kembali ke Pulau Sebesi untuk istirahat dan makan tentunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s